Kumpulan karya sastra santri putri daarul huda
Karya: Novita Sekar Arum Sari, VII A/I KMI
(Terpilih sebagai cerpen terbaik ke 3 pada lomba penulisan cerpen tingkat SMP se-kota Banjar, yang diselenggarakan oleh IRMA SMAN 1 Banjar)
Namaku Mila, umurku 11 tahun. Kini aku duduk di kelas 5 SD. Aku tinggal di Kota Bandung. Ayah dan Bundaku bekerja di tempat yang berbeda. Mereka sibuk dengan perusahaan mereka masing-masing. Di rumah aku hanya ditemani oleh Bi Surti dan Kang Jaja. Yach, mereka berdua memang pembantu setia keluargaku. Aku tidak punya kakak ataupun adik. Aku anak tunggal, oleh karena itu aku selalu kesepian.
***
Tahun Ajaran baru…
“Horeee….!!!” teriak anak-anak di kelas karena mereka semua naik kelas.
Hari ini hatiku sangat senang. Ini adalah piala kelima yang aku peroleh karena aku juara kelas. Semua teman member ucapan selamat kapadaku. Di tengah-tengah kegemuruhan itu, tiba-tiba pak Agus dating.
“Tenang!!!” katanya dengan suara lantang.
Kemudian dia mengumumkan waktu liburan semester. Semua murid pulang dengan hati yang bahagia.
***
Di rumah tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa membaca buku dan menonton TV. Padahal aku juga ingin hidup normal seperti teman-temanku. Kata ayah dan bunda, aku harus banyak beristirahat, padahal aku juga ingin pergi bertamasya. Aku tahu mereka hanya tidak sempat mengajakku ke luar rumah.
***
Pagi itu sangat cerah. Kicau burung seakan menambah indahnya hari itu. Ketika aku sedang asyik menikmati kedamaian itu, tiba-tiba…
Brakkk….!!! Aku merasakan sakit luar biasa di dada kiriku. Tubuuhku terbujur lemah di lantai. Aku tak menyangka penyakit itu kembali menghampiriku. Sakit jantung yang kurasakan berhenti 2 tahun silam itu.
Dua tahun yang lalu aku mempunyai penyakit jantung, tetapi setelah kedua orangtuaku membawaku berobat ke Singapura, penyakit itu mulai mereda. Tapi kini…
***
Aku tidak sadarkan diri. Saat kubuka mataku, aku sudah ada di kamar yang tak aku kenali. Saat kulihat ke atas kutemukan sebuah botol putih menggantung. Lalu kusadari, aku ada di rumah sakit.
“Sayang….,” suara bunda yang datang tiba-tiba mengagetkanku. Dia memelukku dengan penuh kasih saying. Kurasakan ada gelora kekhawatiran dalam hatinya.
“Sayang, bagaimana keadaanmu? tanya bunda penuh dengan kegelisahan.
“Hanya sedikit sakit di bagian ini,” kataku sambli memegang bagian dadaku sebelah kii. “Mana ayah, “ tanyaku.
“Maaf, ayahmu… dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya,” katanya agak terbata-bata.
Memang, dari dulu hingga sekarang aku jarang bertemu ayah. Dia disibukan oleh pekerjaannya sendiri.
Setelah itu ibu membawaku ke taman yang ada di tengah rumah sakit. Ibu meninggalkanku karena dia hendak membeli bubur untuk sarapan.
Dia atas kusi roda aku duduk dan memandangi keadaan di sekitar taman, kulihat nenek-nenek, kakek-kakek, bapak-bapak, ibu-ibu dan bahkan anak-anak yang manis-manis. Wajah mereka terlihat pucat pasi, tubuh mereka kurus, lemah, dan seperti tak punya gairah hidup lagi. Dalam hati aku bertanya, “Apakah itu cerminan diriku? Apa mereka merasakan apa yang aku rasakan?
Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang kelihatannya usianya tidak jauh berbeda denganku. Dia duduk di bangku yang ada di dekat kursi rodaku. Saat aku memandangnya, kulihat mukanya begitu polos, pucat, dan manis. Dia berblik memandangku, lalu tersenyum manis. “Hai..!!” sapanya dengan ramah. Aku hanya tersenyum, tak menjawab. “Aku Iqbal, siapa namamu?” tanyanya sambil mengulukan tangan.
“Aku Mila,” jawabku
“Dimana rumahmu?”
“Tidak jauh dari sini, perumahan Cemara Blok C no 3, “kataku dengan jelas.
“Kalau begitu alamt kita tidak jauh.”
“Memang dimana rumahmu?
“Perumahan Cemara Blok. B no.9”
“Mungkin, rumah kita hanya terbatasi beberapa rumah saja,” jelasku.
“Terkadang, jarak yang begitu dekat, tidak memastikan seseorang untuk mengenal satu sama lain.”
Kemudian kami terdiam seribu bahasa. Kami bingung apa yang harus kami tanyakan. AKhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Kalau boleh aku tahu, penyakit apa yang kau derita?”
“Aku terkena asma sejak aku duduk di kelas III SD. Tapi kata dokter, penyakit itu bisa datang dimana saja dan kapan saja,”.
“Kalau kau?”
“Aku terkena penyakit jantung dari aku lahir. Dulu, aku pernah berobat ke Singapura, dan itupun berhasil, tetapi kini penyakit itu datang kembali. Mungkin sudah takdir penyakir ini menjadi temanku seumur hidup,” air mataku seakan mau jatuh saatku menceritakan penyakitku.
“Kau tidak boleh bicara seperti itu. Kau harus percaya Allah akan memberikan kesembuhan padamu.”
Tiba-tiba bunda datang. Pembicaraan kami berhenti saat itu. Iqbal pergi dan berkata, Smoga kita dapat bertemu di lain waktu,” katanya sambil mengembangkan senyum manisnya.
***
Tiga hari di rumah sakit serasa 3 tahun di penjara. Tapi, kini aku sudah bebas dan isa bermain dengan Bi Surti dan Kang Jaja lagi. Selama 3 hari di rumah sakit, aku tidak pernah bertemu dengan Iqbal lagi, mungkin dia pulang lebih awal dariku.
Hari ini, tidak seperti biasanya. Bi Surti pergi ke pasar bagitu lama. Kang Jaja memotong rumput halaman depan dan belakang. Aku sendiri, duduk di samping vas bunga yang ada di loteng sambil melihat jalan. Yah, meskipun tidak ada yang lewat, karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya mashing-masing.
Lalu, tiba-tiba mataku tercengang melihat sebuah sepeda melayu di depan rumahku. Kulihat ada seorang anak laki-laki yang menaikinya, dan aku tahun itu Iqbal.
“Iqbal,” teriakku. Dia berhenti dan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Aku segera turun dan menemuinya di balik pagar.
“Jadi ini rumahmu.”
“Yah, inilah rumahku. Mana rumahmu?”
“Sini, “ dia menarikku dan menundukanku ke sepedanya lalu dia mengendarai sepedanya dengan pelan.
“Hai, akan kau bawa kemana aku? Aku kan belum…”
“Shutt! Aku akan membawamu ke sebuah taman yang sangat indah.”
“Taman apa?”
“Taman Langit.”
“Apa? Taman Langit? Taman apa itu?”
Dia diam dan tak menjawab apapun. Tapi, aku sangat senang, ternyata ada juga yang mau menjadi sahabatku.
***
Kami berhenti di sebuah lapangan luas. Tiada orang satu pun yang ada disitu. Dia menuntunku ke sebuah pohon. Kami duduk di bawah pohon itu.
“Tutup matamu!” katanya member intruksi.
“Lalu?”
“Damaikanlah rasa hatimu, hilangkan semua masalahmu.”
Kami berdua terdiam…
“Apa kau bisa melihatnya?”
“Yach, sangat indah.”
Entah sihir entah imajinasi kami saja, yang jelas kami berdua seakan masuk ke dalam mimpi indah di sebuah taman.
***
Saat aku masuk ke rumah, tiba-tiba Bi Surti memelukku. “Mila, dari mana?” tanyanya penuh selidik.
“Aku…aku hanya bosan berada di rumah, karena tidak ada yang menemaniku disini. “Bi Surti tau, tapi, kalau Mila mau pergi keluar rumah, Mila harus bilang ke Bi Surti atau Mang Jaja.”
“Maafkan Mila, Bi!” aku tak sanggup melihat wanita tua itu yang hendak menangis. “Ya, bibi mengerti,” jawabnya sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya, saat kutunggu kedatangannya, dia tidak dating juga. Akhirnya kuberanikan diri pergi sendiri ke Taman Langit.
Kurasakan kedamaian hati saat kuberada di taman langit. Tiba-tiba, “Pletakk….!”
“Aaaa….., hai! Siapa yang melempar batu ke kepalaku?” Ada batu yang menimpa kepalaku.
“Aku, memangnya kenapa?”
Muncul seorang anak dari balik pohon.
“Apa kau sadar? Batumu membuat kepalaku berdarah. Itu berbahaya, tau…!!!
“Syukurlah, hal ini membuatmu sadar.”
“Hey, apa maksudmu?”
“Apa karena kau tidak punya teman, jadi bersikap gila seperti ini?”
“Tidak ada alasan bagimu untuk menyebutku gila.”
Tersenyum-senyum sendiri sambil menutup mata di bawah pohon.
“Hai kau..! Menjauhlah dari sini!”
Tiba-tiba Iqbal muncul dengan sepedanya.
“Tidak ada orang yang lebih gila dari orang yabng berteriak-teriak menghina orang lain,” lanjutnya.
Anak itu kemudian pergi tanpa sepatah katapun.
***
Keesokan harinya, kami berdua kembali pergi ke Taman Langit. Kami berdua merasakan kedamaian, sebelum akhirnya aku rasakan ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Aku pingsan tiada sadar, dan aku tak tahu apa yang terjadi kepada Iqbal.
Setelah kuterbangun, kulihat Iqbal sedang meneliti celah sempit di ruangan kami berada.
“Iqbal, dimana kita?”
“Hai, bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kita diculik!”
“Apa? Lalu, bagaimana?”
“Kita harus keluar dari sini.”
“Bagaimana caranya?”
“Lihat, aku menemukan jalan keluar.” Kata Iqbal sambil meraba papan yang berada di dinding bagian bawah.
“ Wah, seperti pintu rahasia.”
“Apa kita bisa keluar lewat sini?”
“Ayo! Bantu aku menariknya!”
“Ayo!”
“Hai, apa yang sedang kalian lakukan?” gertak seorang lelaki berbadan tinggi dan besar.
“Apa kau tidak kasihan kepada kami? Kami adalah anak penyakitan yang kurang kasih sayang orangtua!” teriak Iqbal.
“Aku tidak peduli, yang penting aku bisa mendapat uang dari orang tua kalian!”
“Hanya orang yang tidak berperikemanusiaan yang bicara seperti itu.”
“Apa katamu!” sentak penculik itu sambil mendorong Iqbal ke belakang. “Hai, kalau kalian ingin hidup, diamlah disini,” katanya sambil meningglakan kami dan mengunci kami di kamar pengap itu.
“Iqbal, bagaimana keadaanmu?”
“Tenang, aku tidak apa-apa.”
“Tapi, bibirmu berdarah,” kataku sambil mengambil sapu tangan.
“Sudahlah, hari sudah malam. Lebih baik kau tidur”
“Tenang, aku akan tidur setelah membersihkan darahmu.”
***
Keesokan harinya…
“Iqbal, apa yang terjadi padamu?” teriaku saat melihat muka Iqbal yang sangat pucat dan nafasnya terengap-engap.
“Sebentar, aku akan meneliti ke luar lewat papan yang kau temukan.”
“Maafkan aku, Mila,” katanya samba terbata-bata.
“Diamlah disini”
Dengan sekuat tenaga kutarik papan itu, tapi papannya tidak juga terbuka. Aku hamper putus asa, tapi tiba-tiba kulihat celah yang tertembus sinar matahari di bagian pojok ruangan.
Dengan sekuat tenaga kuraba bagian bawah lantai itu, dan… kutemukan sebuah batu yang sangat besar. Kugunakan batu itu untuk memukul papan tersebut, dan akhirnya papan itu terbuka.
“Tetaplah disini, aku akan pergi mencari bantuan.”
Di dekat jendela kudengar percakapan dari kedua orang yang menculikku.
“Kalau begitu, sekarang kita pergi menemui orang tua kedua anak itu.”
“Tapi, bagaimana dengan anak-anak itu?”
“Tenang, kuncinya akan kubawa.”
Kemudian mereka pergi menggunakan mobil.
Aku berlari ke pintu depan lalu kubuka pintu itu dengan jepit rambut yang kukenakan. Aku berhasil! Lalu kucari kamar tempat Iqbal berada.
Saat kubuka pintunya, kulihat Iqbal diam tidak bergerak. “Iqbal kita berhasil,” tapi dia tetap terdiam. Kuteliti denyut nadinya. Tapi, tidak ada getaran. Tanpa kusadari mataku meneteskan air mata. “Iqbal bangun…!! Ayo kita pulang,” dia tetap tidak menjawab.
Kini kusadari Iqbal tak bernyawa lagi. Aku tak menyangka orang yang selama ini melindungiku, pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku hanya bias menangis di pangkuannya.
Tak lama kemudian kudengar suara sirine mobil polisi dari depan. Tapi aku seakan tak bisa beranjak dari pangkuan Iqbal.
“Sayang,…” suara mamah mengagetkanku, disusul kedatangan papah yang langsung memelukku. Kemudian ada sepasang suami istri yang berlari menuju tempat aku dan Iqbal berdua.
“Iqbal…!!!” jeritan wanita itu membuat aku tahu bahwa ia adalah ibu Iqbal. “Sudahlah, ini memang sudah takdir. Tiada yang bisa mengubah semua ini, kata suaminya sambil meneteskan air mata. Kemudian kami semua pulang.
***
Sore harinya, aku, ayah, dan bunda pergi bersama menghadiri pemakaman Iqbal. Aku tak percaya dalam liburan satu minggu ini semua waktu kuhabiskan bersama Iqbal. Tapi seiring dengan berakhirnya liburan, berakhir pula kebahagiaanku bersama Iqbal. Kebahagiaan seorang sahabat.
Sesampainya di makam, kurasakan kesunyian dan kesepian yang menghiasi tanah pekuburan itu. Mungkin, keadaan itu menggambarkan apa yang terjadi di dalamnya. “Iqbal…..terima kasih, karena kau sudah membuatku merasakan apa arti persahabatan. Kini, aku hanya bisa mendoakanmu dari dunia.”
“Tak mungkin kulupakan persahabatan kita yang hanya seminggu terjadi itu.”
0 komentar to "Meski Hanya Seminggu"
Posting Komentar